honeyhenyyy imuuuut geto loooh

Minggu, 12 Desember 2010

Maafkan Aku Ayah.. ( Karena Aku Wanita!!)


Maafkan aku ayah,

Jika dua puluh tahun silam, Bunda melahirkanku dengan keadaan yang tak bisa kau terima. Aku terlahir sebagai seorang perempuan, bukan laki-laki seperti yang selama beberapa tahun belakangan kau idam-idamkan. Kau kentara sekali kecewa, bahkan murka. Dan bunda, yang tak sanggup menerima murkamu, meninggal beberapa jam kemudian. Membawa pedih dan duka ke alam keabadian bersamanya. Belakangan ini aku berpikir, kenapa bunda tidak membawaku serta kala itu. Dengan begitu, mungkin saja aku akan lebih berbahagia, menghirup udara penuh cinta bersamanya di surga.

Maafkan aku ayah,

Jika hari-hari setelahnya, dengan segan kau terpaksa merawatku. Aku mengganggumu dengan tangisku di malam hari, memotong masa-masa yang mestinya kau gunakan untuk melepaskan penatmu di tempat tidur. Aku membuatmu bingung ketika lapar, karena kau tak pernah sanggup membeli sebotol susu untuk menyingkirkan dahaga yang menyerangku. Kau menyesal memiliki aku, aku tahu itu. Dan, aku tak mengeluh ayah, karena aku tahu, tak ada yang lebih menyesalinya selain aku.

Maafkan aku ayah,

Ketika beberapa tahun setelahnya, aku tumbuh menjadi gadis mungil yang manis. Beberapa orang menyayangiku, mencoba memenuhi paru-paruku dengan nafas cinta yang tak kunjung kudapatkan darimu. Namun, bagimu itu sama saja menegaskan kegagalanmu menciptakan seorang putra. Dengan berbagai cara, kau mencoba merubahku, menempaku agar aku melupakan bahwa aku adalah putrimu. Mencoba menanamkan sebuah memori asing dalam tengkorakku, bahwa aku adalah pemenuhan ambisi seorang manusia, yang  sangat  menginginkan seorang anak laki-laki. Melupakan fakta bahwa aku adalah karunia Tuhan, yang lebih berharga daripada ambisi hinanya sebagai manusia.

Maafkan aku ayah,
Ketika pada suatu hari, aku pulang dengan dahi berdarah. Seseorang mengata-ngataiku anak yang tak punya ibu. Dan aku sangat marah karenanya. Aku memukulnya tepat dihidungnya ayah, dan tahukah ayah, dia juga membalas menghajarku. Sampai kepalaku bocor, dan salah satu giginya tanggal, baru kami saling melepaskan diri. Ketika sampai di rumah, ayah ingat apa yang ayah lakukan? Ayah menanyaiku detil kejadiannya, mengacuhkan lukaku yang terus menerus mengeluarkan darah. Ayah lebih peduli kenyataan bahwa aku berhasil menanggalkan giginya daripada mengkhawatirkan aku  akan amnesia atau gegar otak. 

Maafkan aku ayah,

Ketika aku tak sanggup menghentikan usiaku yang bertambah, ketika fisikku berubah. Aku sendiri bingung ketika aku mendapati dadaku tak rata lagi. Dua ‘buah’ tumbuh disana. ‘buah’ yang akan terasa sakit sekali ketika tergencet. Lama sekali aku menyadari kalau itu adalah batas yang membedakan antara kenyataan dan ambisimu ayah. Baik aku ataupun ayah sama-sama tak bisa mencegah  hal semacam ini terjadi. Aku mungkin bisa melupakan siapa aku yang sebenarnya, namun tubuhku tak mungkin keliru mengenal dirinya sendiri. Ingatkah apa yang ayah lakukan saat mengetahui buah dadaku tumbuh? Ayah memaksaku mengenakan ‘stagen’ Bunda dibalik kausku, guna menyembunyikan ‘aib’ baru yang kuciptakan.

Maafkan aku ayah,

Ketika aku membuatmu gusar dengan sebuah kenyataan yang lain. Aku MENS. Darah merembes keluar lewat vaginaku, diiringi rasa nyeri yang tak terkira. Aku berusaha menyembunyikannya, karena aku adalah anak yang cerdas, yang cukup pandai membaca gelagat. Sebuah kenyataan yang akan mengingatkanmu akanku yang sebenarnya akan menyakitiku lebih dalam  dari sebelumnya. Namun apa lacur, kau tahu juga pada akhirnya. Kau melihat ceceran darah di seprei, dan sebuah pembalut bekas di kamar mandi pada suatu pagi, ketika aku dengan ceroboh lupa membuangnya. Dan ingatkah ayah apa yang ayah lakukan kepadaku? Ayah menyiksaku, siksaan yang paling parah yang pernah tercatat dalam memoriku. Ayah membantingku, seolah salahkulah aku mengalami hal ini. Ayah menjambak rambutku, seolah aku yang meminta rasa sakit ini. Tak bisakah ayah mengerti, bahwa pada saatnya ayah akan kalah oleh waktu. Setiap detik yang ayah buang dengan berpura-pura memiliki anak laki-laki terburai dengan sia-sia. Aku tidak mungkin bisa mengelak dari takdirku. Tapi, saat itu ayah tak mengerti. Tuli akan isakku, erang kesakitanku, ayah menendangku, memukulku dengan membabi buta. Aku tak pernah melupakan itu. Tak pernah.

Maafkan aku ayah,

Ketika pada puncaknya, kau memergokiku mengenakan mukena bunda. Aku sholat. Ya, pertama kalinya dalam hidupku aku menghadap Penciptaku dengan sempurna. Aku merasa penuh, aku merasa dilengkapi. Tempat-tempat yang kosong selama ini, yang hampa, seolah hangat terpenuhi oleh cinta. Cinta dari Tuhanku. Ya, aku merasakan cinta dariNya, ketika kurengkuh kedamaian dengan mukena Bunda yang lusuh. Namun, belum sempat aku menuntaskan kewajibanku, aku merasakan sepasang tangan yang kasar merenggut mukenaku lepas. Belum sempat aku pulih dari keterkejutanku, aku merasakan sebuah pukulan menghantam mukaku. Dari rasa hangat yang mengaliri pipiku, aku tahu dari tempat yang terkena hantaman tadi mengelir setetes darah. Namun, itu tidak seberapa dengan apa yang kuterima setelahnya.
Ayah menghajarku membabi buta. Menendangku, menampar mukaku, bahkan menghempaskan tubuhku ke lantai. Diatas itu semua, aku yang akhirnya menemukan suaraku berbisik lemah.
                “ Bunuh aku kalau begitu. Selesaikan ini, biar tuntas. Biar ayah puas..”
Ayah bergeming. Dengan raungan murka, kau mengambil bangku terdekat dan menghantamkannya ditubuhku. Aku yang tak sempat menghindar, merasakan kayu berat itu menindihku, dan kurasakan sakit yang tak terperih di rusukku. Kayu itu telah mematahkannya. Aku mencoba bangkit, namun tak ada yang bisa kulakukan lebih daripada berlutut di kakimu yang masih bergetar hebat oleh kemarahan Ayah.
                “ Kenapa,” bisikku. Aku mendongak menatapnya, dan pandanganku terkaburkan sesuatu yang aneh. Mataku kubuka lebar-lebar, dan sepotong warna mengisi kanvas penglihatanku. Warna merah pekat. Mataku penuh darah rupanya. “ Kenapa ayah tak membunuhku saja?” lanjutku.
ayah menamparku lagi.
                “ Kenapa ayah tidak mengijinkanku bersatu dengan bunda?”
Satu tamparan lagi menyahuti ucapanku.
                “ Cukup ayah..!” bentakku. Tanganmu yang telah melayang, membeku di udara. Aku mencoba bangkit. Dengan susah payah aku berdiri berhadap-hadapan denganmu. Ingatkah ayah? Ayah  memandangku seolah tak pernah bertemu denganku. Ayah  mungkin tak pernah menyangka aku akan melawan.
                “ Berapa lama waktu yang ayah butuhkan sampai ayah puas? Berapa lama waktu yang ayah butuhkan untuk menyadari bahwa aku adalah manusia? Aku anakmu ayah, bukan pelampiasan kemarahanmu akan anak lelaki yang tak bisa kau miliki. Aku puterimu ayah..” aku sengaja menekankan nada pada kata itu, biar ayah mengerti.
Namun, begitu mendengar kata puteri itu, ayah menjadi semakin kalap. Ayah merenggut belakang kepalaku, mendorongnya ke depan dan menghantam cermin. Ingat kan ayah? Aku bagai menyaksikan dalam gerakan lambat ketika serpihan pecahan cermin itu menghiasi lantai. Aku bahkan bisa merasakannya kembali, ketika kurasakan pecahan-pecahan kaca itu menembus telapak kakiku yang telanjang. Tak puas dengan itu semua, tak puas dengan aku yang sudah tak berbentuk dan terkaburkan oleh darah, ayah menuju ke belakang dapur, mengambil selang air. Ayah tahu, apa yang kurasakan? Aku muak! Muak dengan setan yang mendominasi hatimu. Aku muak dengan sakit yang telah kuakrabi ini. Aku muak ayah, hingga tanpa bisa kucegah, aku menjerit sekuatnya.
                “ AAAAAAAAAAAAAARGH……..!!!!”
Kau kembali dalam murkamu, memukulku kuat-kuat dengan selang air itu. Kurasakan panas merajai tempat yang kau pukul. Rasanya aneh, sakit terasa lambat merayapi. setelah  kusadar sakitnya terasa, aku menjerit semakin keras, menumpahkan jeritan yang selama ini kutahan. Dan ketika aku melihat kakiku yang baru saja kau pukul, aku melihat sebaris daging telah meninggalkan kakiku. Darah merembes seperti dituangkan begitu saja ke lantai. Aku sakit ayah, tak sadarkah kau? Tapi apa yang kau lakukan, kau memukulku, seperti setan, kau lupa mendengarkan jeritanku ayah,kau lupa menyadari betapa aku kesakitan. Kau lupa ayah, betapa aku mendambakan mati saat itu. Ayah, kenapa ayah lupa..?
Tapi, aku tidak lupa. Aku tidak lupa bahwa ayah harus berhenti, bahwa sudah saatnya ayah berhenti. Aku berontak ayah, tak peduli betapa nyeri seluruh badanku. Dan, aku melihat disana, sebuah wajah mengerikan yang tersenyum dalam kemenangan, tepat ditengah-tengah dadamu. Apakah kau tak mengerti ayah, apakah kau tak pernah sadar, kalau selama ini sesuatu itu telah menggelayutimu sekian lama. Aku harus membebaskanmu. harus.
Kemudian, aku melihatnya. Berkilauan di atas lantas, pecahan kaca yang telah kupisahkan dari bingkainya dengan kepalaku. Aku memungutnya, dia adalah pengharapan terakhirku. Dengan tangan bergetar namun kokoh, aku menusukkannya ke dadamu.
Aku melihatmu membeku. Wajahmu pias ketakutan. Jangan takut padaku ayah, bisikku saat itu. Ingat ayah, aku memelukmu ketika berulang kali aku menusukkan kaca itu kedadamu yang didiami setan. Kau berontak, tapi aku menguncimu dalam pelukanku. Aku menyayangimu ayah, aku tak rela mahluk itu membuatmu lupa akanku. Aku akan membebaskanmu. Dan aku terus menusukmu, terus, terus… sampai kau tak merasa lagi. Namun, aku tak berhenti.
Dan, kudapati matamu membelalak tanpa melihat. Apa ini ayah, kenapa kau masih ketakutan? Tak sadarkah kau, bahwa baru saja aku membebaskanmu dari setan yang selama ini mendiami hatimu. Namun, kau masih takut padaku, anakmu yang telah berbaik hati padamu. Kau harus senyum ayah. Senyum! Namun, aku melihatmu tetap membeku dalam ekspresi ketakutan yang abadi.
Dan, segera saja aku menemukan solusinya. Kau telah mati. Kau tak bisa senyum lagi. Bukan salahku ayah, kau memilih mati bersama setan itu, padahal aku tak pernah bermaksud seperti itu. Namun, bukan berarti kau tak bisa tersenyum. Aku bisa membuatmu tersenyum. Dengan mantap aku mengambil kembali pecahan kaca yang tlah menjadi vonismu malam ini, dan mulai menorehkan sebentuk senyuman dibibirmu yang terbuka.
Sempurna. Aku akhirnya melihatmu tersenyum. Aku bahkan merasakan senyummu begitu hidup. Ayah, kenapa tak kusadari sedari dulu? Mengapa tak ku mengerti bahwa ayahku menyayangiku? Mengapa ayah berbuat kejam,karena setan itu. Dan, sekarang ayah telah bebas. Bebas untuk selama-lamanya…
Kemudian, kudapati diriku dikerumuni orang-orang yang sama sekali asing. Mereka menunjuk-nunjuk mukaku, sebagian mendekap mulut dan menjerit. Samar-samar, suara mereka menembus kebisingan semu gendang telingaku.
                “ Lihat mukanya! Ya ampun..”
                “ Dia  membunuh  ayahnya?”
                “ Bukan, dia disiksa..”
Dan aku menyaksikan ketika jasadmu dibawa keluar ayah, dan seorang yang berseragam menjijikan memakaikan sesuatu di tanganku, mungkin gelang. Hadiah akan keberhasilanku membebaskanmu mugkin ayah? Entahlah..
Aku dibawah ke entah apa. Aku menjalani hari-hari penuh damaiku disana. Dan ku tahu, kau tengah damai di surga ayah, bersama Bunda yang telah menunggu lama. Nah, sekarang kau mengerti kan Ayah, betapa banyak yang telah ku perbuat untukmu dalam satu malam. Aku telah menghentikanmu menyakitiku, yang kau lakukan dengan tidak sadar, aku juga telah membunuh setan yang mendiami hatimu tanpa kau sadari, dan aku telah menyatukanmu kembali dengan Bunda, cinta sejatimu.

Maafkan aku ayah,
Jika aku telah menunda terlalu lama. Maafkan aku ayah, yang harus menderita dan terbenam dalam kubang  dendam. Maafkan aku ayah, yang telah kau siksa hampir seumur hidupku. Maafkan aku yang malam ini menghidupkanmu dalam benakku kembali. Dan sekarang, kau benar-benar ada.
Kau terlihat begitu nyata, berdiri kaku disudut ruanganku. Kau terlihat mengerikan. Kenapa lagi ayah? Aku tidak memakai mukena lagi, dan bukan salahku jika disini aku tidak pernah berkelahi, karena disini tidak ada laki-laki. Kau tak akan mau aku menyakiti perempuan kan? Kenapa ayah, jangan memandangiku seperti itu.
Kau mendekatiku, mencekal tanganku kasar. Ada apa ayah? Kenapa, apa salahku?
                ikut!!!”
Tidak!! Aku tidak akan kemana-mana!! Tidak ayah, jangan siksa aku lagi.. jangan ayah..
Tapi, kau tetap menarikku.. kemana ayah.. lepaskan ayah.. LEPAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSSS!!!!


SELESAI DI TENGAH MALAM
Buat ayah,
Maaf jika aku menyiksamu dengan menghidupkan
Kembali ingatanku malam ini..
Selengkapnya...

Cinta Yang Tak Ter-Update


Aku menangis di pojok kamar mandi, berusaha tak mengeluarkan suara. Ada terlalu banyak rasa sakit, dan tak satupun yang bisa teridentifikasi. Aku marah, itu menimbulkan rasa sakit. Aku sedih, itu juga banyak menimbulkan rasa sakit. Aku benci, juga menimbulkan kesakitan batin. Aku kecewa….dan rasa kecewa bahkan lebih menyakitkan dari semuanya….
                Seandainya hidup tak begitu rumit. Seandainya saja aku kupu-kupu, yang siklus hidupnya berputar antara telur, ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Tanpa perlu merasa, tanpa perlu berpikir. Tanpa perlu menyesali jalan kehidupan yang jelas-jelas tidak bisa terulang kembali.
                Aku masih sangat  muda, tapi aku sudah bosan hidup…


Wall, aku meng-kliknya.
Ada banyak pemberitahuan terbaru. Aku membaca satu persatu.
Ncha Hamzach menulis di dinding OvhyOvhie
Ncha Hamzach mengomentari status Nina LophWan
Ncha Hamzach mengomentari foto Ais Hamzah
17 kabar serupa…
                17 kabar serupa!!! Bayangkan saja!!! Semalaman dia tidak tidur hanya untuk mengomentari status konyol teman2nya yang kebanyakan ABG itu.. dan aku yakin, dia juga tidak ingat hari apa hari ini..
Facebook. Sebuah kata yang sangat sederhana, namun kehadirannyamembawa dampak yang sangat tak sederhana. Ada yang bilang situs tersebut sangat ampuh, seperti master ilmu-ilmu gaib. Betapa tidak? Bayangkan, Facebook bisa membuat orang jauh terasa sangat dekat, dan menjadikan orang yang tadinya sangat dekat terasa sangat jauh. Itulah yang sedang kurasakan sekarang. Orang yang dulunya begitu dekat, orang , yang padanya kubagi semua keluh kesah,tempatku bertukar kisah sehari-hari, kini bagaikan lenyap ditelan isu facebook ini.
Suamiku bukan orang yang roamntis,  juga bukan orang yang perhatian. Namun, sekaku-kakunya dia, dia pasti akan menanyakan apa saja yang kukerjakan seharian ketika dia tak ada di rumah. Dan di momen2 sepulangnya kerja adalah momen2 yang sangat kurindukan setiap hari. Pada saat itulah aku dan suami berbincang, mengobrol, asik sekali..
Namun, hhh….
Aku senang dia bisa mengekspresikan dirinya dengan lebih baik melalui akun tersebut. Namun, aku sangat berharap dia ‘ada’ buat aku. Namun, dia merasa perasaanku bukanlah sesuatu yang penting. Dia merasa aku terlalu kekanakan, yang tidak perlu diperhatikan. Aku hanya ingin dia memperbarui cintanya tiap hari, dengan sekedar mengucapkan ‘I love you’ setiap hari. Aku ingin dia seperti dulu lagi,, hanya itu….
Mungkin memang ‘itu’ telah menguap…jadi dia tidak bersusah payah meng-update-nya lagi.. karena memang tidak ada lagi yang perlu di-update.. haruskah aku menyesalinya???
TIDAK!!!
Hanya pecundang yang tahan hidup berlipur sesal, kata seseorang… namun, salahkah jika saat ini aku sangat merindukan masa lalu?? Dimana aku bisa dengan bebas menangis dan kembali, dapat memencet ikon “undo” kapanpun aku mau.. mengubah keadaan ke awal lagi,  menjalaninya tanpa perlu menyesal lagi… saat dimana aku bisa dengan bebas memeluk Ibu dan mengadu.. saat-saat yang kini telah hilang…
Aku adalah tokoh utamanya sekarang. Tak ada yang bisa menyemangatiku sebaik diriku sendiri, tak ada yang bisa menyakitiku seburuk diriku sendiri, tak ada yang bisa dengan kokoh  menopang tubuh lunglaiku selain diriku sendiri—walaupun dulu ada yang berjanji untuk itu. Namun, ada kalanya ketika aku merasa SANGAT sendirian. Aku jengah mencoba berbagi, karena semua yang mendengar akan selalu berpendapat aku yang salah. Aku merasa kesakitan, ini adalah hal wajib yang tak akan pernah terpisahkan dari kehidupanku sekarang. Mungkin, aku harus membiasakan diri dengan rasa sakit itu. Mungkin malah, aku harus ‘bersahabat’ dengannya…
Ada seseorang dari masa lalu yang kemudian datang kembali, begitu hangat, begitu baik, sebaik dirinya dalam anganku. Hatiku hangat setiap kali memikirkannya. Dia seperti seorang kakak yang tiba-tiba muncul begitu saja, seorang kakak yang sedari dulu ku impi-impikan. Kepadanya aku bisa dengan mudah membagi bebanku. Dengannya aku bisa dengan mudah membagi kesakitan ini. Aku tidak pernah bisa mengucapkan betapa berarti setiap kosa yang diucapkannya. Namun, aku tahu dia mengerti.
Suamiku kini begitu asing, begitu jauh, dan sama sekali tak berkeinginan untuk mendekatkan diri. Hanya doa, agar aku tetap HIDUP demi anakku, yang membuatku selalu kuat, dan mampu untuk melakukan semuanya, sesulit apapun itu. Bahkan, bernafas terasa kembali wajar…..
Sudahkan anda meng-update status anda hari ini??????
Selengkapnya...

Senin, 06 Desember 2010

ketika cinta tak lagi 'bergelora'

3 tahun. hanya tiga tahun yang diperlukan untuk saling membenci satu sama lain. Yang membuatku sangat sakit, hanya tiga tahun yang dia perlukan untuk berhenti mencintaiku. Bertolak belakang dengan janjinya yang akan senantiasa menjadikan saya cinta seumur hidupnya.. bahwa tidak akan ada perempuan lain yang akan lebih cantik dibandingkan saya..hhhh.. laki-laki...
dalam masa-masa mendatang akan sangat mengganggu membaca ini semua..tapi, aku berjanji tidak akan melewatkannya. Selengkapnya...

MENIKAH... WAH!!!!!


Ketika pertama kali suami melamar, saya serasa di ujung nirwana. Bagi wanita seperti saya tak ada kata sesempurna pernikahan, padahal bayangannya dalam benak saya hanya serupa lukisan abstrak seorang pelukis amatir. Namun, kita senantiasa penasaran dengan sesuatu yang baru, bukan?
hari ketika kami  mengucap janji setia sehidup semati, dalam pikiran saya masih belum tersketsa jelas bagaimana sesungguhnya kehidupan kami setelah pernikahan kami. Benak saya masih dipenuhi pikiran-pikiran tentang hal-hal sepeleh, yang sampai sekarang masih membuat saya mendengus bila mengingatnya. Hal-hal seperti – semoga suami saya tidak tertawa membaca ini. Saya tidak berani  menduga apa komentarnya jika dia tahu apa isi pikiran saya di hari pertama pernikahan.—betapa tampannya lelaki yang baru saja mengikrarkan janjinya membahagiakan saya seumur hidupnya kepada Ayah saya. Betapa sempurna setiap lekukan tubuhnya, setiap garis siluet sosoknya. Masya Allah, betapa Tuhan telah amat sangat baik hati – sekaligus mungkin sedikit ‘mengejek’ saya—dengan mengirim manusia amat sangat sempurna itu untuk menikahi saya pada hari itu.
Ketika duduk bersanding di pelaminan sederhana di hari itu, mataku seakan tak lelah memandangnya, dengan diam-diam tentu saja. Kemudian, angan-angan itu memasuki bagian otak kiri saya. Ah, jangan buat saya terlihat sangat konyol dengan mengakui hal ini. Namun, tak apalah saya mengakuinya. Toh, saya juga memang mengalaminya. Dan bagi saya itu sangat manusiawi. Saya membayangkan ‘malam pertama ‘ kami. Saya tidak ingin terlihat begitu  polos dengan menulis kalau selama pacaran, saya tidak pernah bercumbu dengan suami, namun tanpa bisa saya  cegah, angan-angan indah penuh gelora gairah itu membayang di pelupuk mata. Sayang, maafkan istrimu ini………^_^
Sampailah kita di bagian paling ujung dari fantasi saya saat pernikahan hanya serupa prediksi. Malam pertama kami berlangsung sangat ‘sepi’. Tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya, namun setiap gerakan, setiap perbuatan, meninggalkan sejuta kesan yang bahkan sampai sekarang belum bisa saya lupakan. Pertama kali dia mengucap ikrar akan mencintai jiwa dan raga saya, saat dia mengatakan bahwa dia telah menikahi bukan hanya tubuh saya, namun semua sifat baik dan buruk saya secara keseluruhan,saat itu saya tak sanggup menahan bergulirnya air mata saya. Saya begitu bahagia, hingga tanpa sadar, saya telah menyerahkan seluruh cinta saya, seluruhnya sebagai miliknya yang sah. Tak terganjal dosa, tak terbayangi perasaan takut. Yang ada hanya cinta… hanya cinta saja…… belakangan, saya menyesali bahwa kesan yang sama tak lagi bermakna dalam kehidupan intim kami..
Berakhirlah mimpi Sang Putri ……………..
Kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Saya tahu, kalau sejak saat itu saya tak hanya  hidup untuk diri saya sendiri lagi. Saya punya suami, yang mau tak mau harus saya urus. Saya harus mulai memikirkan apa yang akan saya masak  untuk makan siangnya. Biar saya beritahu satu rahasia. Semandiri apapun seorang laki-laki ketika dia bujang, dia menjelma jadi manusia paling manja setelah menikah. Dan semanja apapun seorang wanita ketika masih gadis, mau tak mau dia harus jadi serba mandiri, mengatur ini dan itu, ketika statusnya berubah  menjadi  ibu rumah tangga. Ah… betapa tidak adilnya….. Namun, wanita harus senantiasa terbiasa dengan segala macam ketidakadilan, bukan?
Hari-hari setelahnya, merupakan bab baru dalam kehidupan kami. Saya berusaha untuk menjadi istri yang baik. Bangun jauh lebih awal dari suami, bahkan jauh lebih awal dari ketika saya masih gadis. Menyiapkan sarapan, secangkir teh dan sepiring nasi goreng, atau sepiring nasi mengepul dengan lauk ikan goreng. Tak lupa secobek sambal. Mmm… lantas mengiringi kepergiannya bekerja dengan lambaian tangan dan sekulum penuh senyum terindahku..
Siangnya, dengan berdebar saya menantikannya pulang. Sajian makan siang sudah menunggu di meja makan. Tak lama, deru mesin sepeda motornya terdengar memasuki  halaman rumah kontrakan kami yang mungil.  Dengan senyum indah yang sama saya menyambutnya melangkahi pintu depan. Kemudian, dengan obrolan ringan tentang apa saja kegiatannya hari itu di sekolah( suami saya seorang guru SMA), saya mengikutinya ke dalam kamar, menontonnya mengganti baju. Tak lama sesudahnya, dengan mulut yang tak berhenti mengoceh tentang beberapa hal, mulai dari rekan kerja yang terlalu cerewet, hingga beberapa murid yang membuatnya sangat kesal hingga dihukumnya, dia melangkah menuju kamar mandi, membasuh muka serta kedua tangannya. Setelah rutinitas itu, dia melangkah ke ruang makan, dimana sajian menggoda itu telah menunggunya.
Kemudian, tudung saji dibuka. Dengan sangat antusias dia menyendok nasi ke piringnya. Masih dengan cerita yang meluncur deras, dia mulai menyuap. Inilah bagian favorit saya, ketika melihat ekspresinya ketika mengunyah, membuat saya merasa menjadi koki terhebat di dunia. Jika ditanya, apa salah satu hal terbaik dari suami saya, saya akan menjawab, dia akan memakan apapun yang saya masak. Plus, ekspresi kepuasan yang sangat nyata.
Malamnya, setelah selesai menunaikan shalat isa, kamipun bercengkrama sembari menonton tayangan televise. Saya kemudian menceritakan kegiatan saya hari itu. Diselingi tawa dan canda segar, kami mulai menghayalkan betapa indahnya kehidupan yang akan kami jalani setelah kehidupan kami dipenuhi tangis seorang bayi. Wah, sepertinya akan indah sekali….
Beberapa  bulan setelahnya, saya menyadari kehidupan tak seindah kisah klasik dalam dongeng. Ada beberapa hal yang lambat saya insyafi. Namun, ada banyak penyadaran akan segala yang terjadi. Bukan sekedar pembanaran, namun bisa dianggap sebagai pencerahan bahwa tidak ada hal yang terjadi dengan sia-sia. Ada banyak makna dalam setiap celah kehidupan,  dan yang pasti, makna yang banyak itu tidak sepenuhnya bisa  kita pahami semuanya.
Begitu pula dengan saya, saya merasa belum siap menghadapi perubahan yang terjadi. Dan terus terang saja, saya tidak begitu menyukai perubahan. Saya kegok menghadapai bahwa dunia tidak lagi berputar dengan saya sebagai porosnya, seperti yang selama ini saya rasakan. Keputusan tidak lagi tentang saya, namun cenderung meminggirkan saya, menjadikan saya sebagai objek, bukan lagi subjek, seperti yang selama ini terjadi.
Saya tidak siap menghadapi kenyataan saya tidak lagi langsing, karena di tubuh saya saat itu tumbuh janin buah cinta kami. Saya tidak bisa menerima bahwa suami tidak menganggap saya seksi lagi, dengan postur tubuh bola berkaki tangan itu. Namun, lebih menganggap saya lucu. Belum lagi, perut yang kian membesar membuat saya sulit melakukan kegiatan yang paling mudah sekalipun. Oh Tuhan,,,,!!!!
Belum lagi, ketika beberapa bulan setelahnya, tangis bayi memecah kesunyian siang hari yang panas. Ya, tepat jam setengah dua siang, putra pertama kami lahir ke dunia. Sungguh, pengalaman yang luar biasa bagi saya, ketika melihat bayi kecil yang tengah meronta itu dulunya hidup di dalam perut saya. Betapa kecilnya, betapa sucinya. Di samping saya, suami saya tak hentinya melapazkan hamdalah, menggulirkan rasa syukur akan kebaikan Tuhan kepada kami.
Bulan-bulan pertama merupakan anugarah dan ujian lain bagi kami. Sekali lagi saya menyadari, bahwa saya belum cukup siap secara mental untuk menjadi seorang ibu. Tangis bayi yang tiba-tiba terdengar pada saat saya tengah enak-enaknya terlelap, kewajiban menyusui yang mengharuskan saya makan dengan porsi jumbo, yang tentunya membuat tubuh saya kian subur, adalah sekelumit hal yang harus saya terima tanpa dapat berkomrntar apa-apa.
Namun, bukankah  wanita yang baik adalah wanita yang “nrimo”? saya mencoba menjadi wanita yang pasrah, walaupun ego seringkali menggelitik emosi, memercikkan api kecil dalam sekam masalah saya dengan suami. Dan, mahluk yang diciptakan Tuhan dengan title ‘laki-laki’ itu, tidak didisain untuk menghadapi perubahan. Mereka tetap dengan ketetapannya  bahwa mereka adalah penentu segala hal, meminggirkan kenyataan bahwa mereka bisa berdiri tegak juga karena bantuan wanita, istri mereka, yang seringkali mereka remehkan. Namun, saya hanya bisa ‘menentang’nya hanya lewat tulisan ini,,

Apapun yang telah terjadi dalam kehidupan saya, saya menganggapnya sebagai sebuah pelajaran berharga. Saya yakin, Tuhan punya rencana seru buat kehidupan saya, yang saya yakin akan dihiasNya bukan hanya dengan senyum tawa saja, akan tetapi disertai pula dengan derai air mata yang merupakan tebusan dari kebahagiaan yang pastinya akan lebih membuat saya menyadari betapa saya tak lebih dari hambaNya yang tak berdaya.


                                                         T        A        M        A         T
                            




Selengkapnya...

THE END



                Adalah sebuah kata yang akrab kita saksikan ketika satu lakon layar lebar usai disajikan. Adalah sebaris kalimat kerdil yang menegas suatu peristiwa teramat sederhana, namun memangku satu makna yang paling rumit dan membingungkan. Dapat berupa suatu yang baik, namun bisa menjadi pertanda akan sesuatu hal yang sangat buruk, ‘akhir’.
                Dalam beberapa kasus, ketika sesuatu hal berakhir, dia membawa dampak yang positif. Sebut saja, jika ada seorang istri yang selama pernikahannya hanya menreima mas kawin bogem mentah, dan digauli sangat tak senonoh dan tak berperikemanusiaan, dan selama itu pula dia mengalami tekanan fisik maupun emosional dari sang suami durjana, maka jalan keluar yang paling sehat adalah mengakhiri mahligai pernikahan mereka.
Atau dalam kasus yang lain, ketika seorang mahasiswa yang karena desakan kedua orang tuanya, yang sangat berambisi memiliki anak yang menjadi dokter, sementara dia adalah seorang anak tunggal, padahal dia sangat memusuhi pelajaran matematika, terpaksa harus bergelut di Fakultas kedokteran yang sangat menyiksanya, maka jalan keluar yang paling baik adalah menyerah dan beralih kuliah di IKJ karena konon dia gemar melukis dan bermain teater.
                Namun, ada pula kisah, dimana kalimat “ THE END” membawa dampak yang lebih mengerikan dari dampak serangan bom atom tentara AS di Hiroshima dan Nagasaki. Ketika seorang istri, yang dengan dedikasi tinggi menyerahkan jiwa raganya untuk berbakti kepada suami dan mengabdi mengurus rumah tangganya, tiba-tiba harus menelan kenyataan yang luar biasa pahit dikhianati sang Suami yang satu tahun belakangan ternyata menjalin hubungan gelap dengan seseorang yang ternyata adalah sang sahabat. Maka berakhirlah surga yang selama ini dibangunnya dengan susah payah dan penuh pengorbanan.
Meski, dalam kasus itu sang suami mengaku telah khilaf dan berjanji akan bertaubat dan tentu saja sumpah setia dan tak akan sekalipun mengulangi perbuatannya yang menurutnya ‘keliru’, dan bisa saja sang Istri dengan tangan terbuka menyambut suaminya kembali, namun semuanya tak akan sama lagi. Tak akan ada keikhlasan untuk mengabdi lagi, ketika lintasan-lintasan ingatan asing berputas kencang laksana gasing samar dalam benaknya, menampilkan sang suami yang tertawa, memeluk sang sahabat! Hhh..akan sulit untuk menjadi orang yang sama lagi. Bahkan mungkin, sang istri akan menjelma menjadi pribadi lain yang akan berpikir ulang tentang arti pengabdian. Bukan sosok yang pendendam, namun orang yang akan sulit untuk toleran.
Adapun ‘the end’ yang lebih hakiki, yaitu kematian…
Semua yang bernyawa akan mati, itu adalah ilmu pertama yang saya pelajari dalam kehidupan. Ketika suatu ketika, burung yang dibelikan kakek saya tiba-tiba diam, kaku, dingin, saya sekonyong-konyong tahu bahwa dia telah ‘lewat’, padahal masa itu saya tak lebih dari tujuh tahun, masih buta akan hakikat kehidupan, apalagi kematian.
Seseorang yang beberapa saat yang lalu masih bergerak, tertawa, tiba-tiba diam, kaku, dingin, ketika Waktu datang menagih takdirnya. Tak kurang satu detikpun, tak lebih satu detikpun. Semua berakhir, bahkan kita tak akan sempat mengingat siapa kita..
Saya belum pernah mati, jadi saya tidak akan pernah bisa menceritakan bagaimana rasanya mati. Namun saya acapkali menyaksikan berita kematian, baik di televisi ataupun saya mendengar kematian seseorang yang saya pikir saya mengenalnya. Setiap kematian yang saya dengar mengguncang saya dalam skala yang berbeda, seperti gempa. Kadang, saya hanya terkejut dan termangu sesaat, kadang saya bisa berhari-hari tak bisa memicingkan mata barang sekejap.
Pernah, saya menyaksikan di televisi, ketika istri seorang mantan presiden akhirnya tutup usia. Saya tidak pernah mengenal sosok mantan First Lady itu, namun salah seorang kakak sepupu saya adalah penerima beasiswa dari salah satu yayasan pendidikan yang konon didirikan almarhumah, hingga kakak saya itu bisa meraih gelar sarjananya. Melalui sepupu saya, saya mengenalnya. Dan ketika saya mendengar berita kematiannya, saya shock. Serasa kehilangan seorang sahabat jauh, yang tak pernah saling bertemu dan menyapa hanya melalui angan.
Dan suatu ketika, ayah seorang aktor terkenal yang beberapa tahun lalu pernah merajai sinetron-sinetron remaja, meninggal secara mendadak. Beritanya sangat mengagetkan, bahkan bagi si pembawa berita. Konon, sang Ayah ini sangat atraktif dan lebih ng-artiss dibanding sang anak. Mungkin, dia yang lebih banyak muncul di infotaintmen dibanding anaknya yang jelas-jelas sebagai aktor. Ini dikarenakan sang anak yang katanya aktor hebat—menurut versi almarhum sendiri lho,—lemah mental dan miskin nyali,  hingga ketika terhimpit masalah, dia akan langsung bersembunyi dan membiarkan sang Ayah yang menjadi juru bicara tidak-resminya.
Dan, suatu ketika seorang aktris W—sebut saja begitu, terlalu banyak pengandaian yang membingungkan—yang adalah kekasih si Aktor tadi, tertangkap polisi ketika sedang pesta shabu di kosannya, sang Aktor terkenal terkesan tidak peduli dan membiarkan sang pacar menjalani pemeriksaan polisi dan cemoohan publik seorang diri, padahal belum sebulan yang lalu, televisi—terutama saluran gossip—menyoroti betapa mesra hubungan mereka berdua, dan jelas-jelas sang aktor menyebut hubungan mereka sebagai “..hubungan yang berkualitas dan penuh dengan chemistry.”
Maka cemoohan publikpun beralih kepada sang Aktor terkenal, yang dianggap sebagai cowok yang tidak jentel dan tak mau repot. Maka, mulailah si aktor ini sulit ditemui, bagaikan menghilang di telan bumi. Dan tentu saja, sang ayah maju untuk membela anaknya mati-matian. Setiap hari, sang ayah ini muncul di acara-acara gossip dan menuturkan suatu fakta bahwa sang  anak dan kekasihnya yang tertangkap tersebut telah mengakhiri hubungan mereka tepat sebelum si gadis itu tertangkap.
Lebih jauh lagi, dia menuturkan bahwa sangat tidak masuk akal anaknya disebut sebagai laki-laki yang tidak jantan.  “ Saya tidak terima anak saya dibilang tidak jantan. Lihat saja sinetronnya sekarang! Bukan sinetron cengeng lagi kan? Dia sekarang lebih banyak memerankan jagoan silat dan di sinetron-sinetron berantem, tahu?” gertaknya berapi-api.
Tepat disini saya tertawa.
Sungguh dangkal pemikiran sang ayah yang sangat berambisi mengangkat nilai anaknya itu. Dan karenanya saya menjadi sedikit kurang respek dengan anak-ayah itu, padahal dulunya saya termasuk fans beratnya lho.
Maka ketika saya mendengar berita bahwa sang ayah ini meninggal, saya terkejut. Saya tidak menyangka bahwa saya akan merasa seperti ini. Seakan baru kemarin saya mendiskusikan ocehannya yang dangkal dengan beberapa teman saya, dan kami menertawakannya habis-habisan, dan sekarang saya tahu dia sudah ‘tamat’, dan itu aneh. Saya tidak mengenalnya, saya bahkan tidak pernah benar-benar tahu siapa namanya, tapi kematiannya mendatangkan sebentuk perasaan asing di kalbu saya. Sebentuk perasaan yang merisaukan, yang tidak bisa diidentifikasi sebagai perasaan sedih. Lama saya merenungi perasaan asing tersebut, hingga di sebuah ‘akhir’ yang lain, saya tahu makna perasaan itu.
Kematian datang silih berganti, sama dengan kelahiran yang tak pernah putus. Yang hidup dan yang mati sesungguhnya tengah melunasi apa yang difitrahkan Sang Khalik, dan saya tak cukup bisa menguraikannya. Hanya kesadaran bahwa hidup kita tak lebih dari memenuhi tenggat waktu yang telah ditimbang  pas, adil. Sama seperti kata-kata saya di awal, tak kurang satu detik, dan tak lebih satu detik. Namun, sering kita bahkan tak terusik ketika mendengar seseorang meninggal, selain dengan lancar mengucapkan innalillahi wa innailaihi roojiuun tanpa benar-benar paham apa yang kita tasbihkan.
Hingga,  suatu ketika sebuah kematian mengguncang saya lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya.  Seorang wanita muda, yang juga tengah hamil muda, meninggal setelah sebelumnya menderita panas tinggi dan kejang-kejang. Ada dugaan dia diracun oleh suaminya yang berencana beristri lagi, namun tak diijinkannya. Dia sempat dirawat di puskesmas sekitar, namun akhirnya tak tertolong.
Perempuan ini mengidap kelainan, mungkin mendekati down syndrom. Dia agak kurang tanggap, namun tidak bodoh. Badannya pun tidak tumbuh secara normal, persis penampilan seseorang yang kurang gizi ketika masih kecil. Dia, juga penampilan dan alur hidupnya tidaklah istimewa, hingga mungkin kematiannya pun tak akan begitu menggangguku, jika saja selama aku mengenalnya, aku menyukainya.
Ironisnya, dia yang adalah tetanggaku dilingkungan baruku, adalah orang yang sangat tidak kusukai. Seringkali, dia memetik buah-buahan di kebunku tanpa permisi terlebih dahulu, meninggalkan dedaunan yang mengotori halaman. Saya seringkali merasa kesal jika harus membereskan bekasnya berburu buah jambu saya yang bahkan belum matang. Bukan itu saja, dia selalu memandang saya dengan cara yang aneh. Setengah mendelik dengan mulut yang miring seperti mencibir. Tentu saja hal tersebut meninggalkan kesan, bahwa dia sangat tidak menyukai saya.
Namun, belakangan saya tahu, bahwa matanya yang mendelik—atau kelihatan seperti tengah mendelik tersebut—karena dia cacat. Matanya yang sebelah kiri tidak bisa melihat, dan mata yang cacat tersebut ukurannya lebih kecil dari pasangannya, hingga ketika dia memandang seseorang, dari sudut pandang tertentu, ekspresinya bisa menyerupai ekpresi wajah tokoh-tokoh antagonis di sinetron. Begitupun dengan mulutnya yang miring, ternyata karena otot bibir sebelah kirinya lumpuh, atau begitulah kira-kira. Karena itu, saya mendapat secercah penjelasan kenapa pandangannya sangat tidak ramah.
Namun, tingkahnya yang tak kunjung henti mencuri buah-buah jambu saya masih saja membuat saya kesal. Saya sudah mencoba memberitahukannya, agar menunggu setidaknya sampai buah-buahan itu matang, namun dia tetap tak bergeming. Dia tetap saja memetiki buah yang mungil-mungii dan sekeras batu tersebut.
Hingga, sayapun tak peduli. Saya membiarkan dia memetiki buah-buah itu, juga saya tak lagi menegurnya ketika berpapasan, dan pura-pura tak melihatnya. Saya mengacuhkannya, mendiamkannya, dan lambat laun, dia tak pernah lagi menyambangi pohon jambu itu. Sedikit banyak saya merasa, taktik saya untuk mengabaikannya berhasil membuatnya sadar kalau yang dilakukannya tersebut mengesalkan saya. Sayapun berniat, jika nanti pohon jambu itu akhirnya berbuah dan buahnya matang, saya akan mengantarkannya ke rumahnya dan melakukan gencatan senjata. Namun, saya tak pernah sempat melakukannya. Belum lagi si jambu berbuah, dia keburu meninggal…
Ada orang-orang yang sangat membuat kita tidak nyaman berada di dekatnya—jika kita tak mau mengatakan jenis orang ini adalah orang yang yang kita benci. Dan seringkali, alasan yang membuat kita tak menyukainya tergolong sepeleh. Misalnya, orang tersebut jarang mandi,  atau terlalu sering meludah,  atau orang yang terlalu malas untuk menerapkan nasehat IDI yang tercetak abadi di balik kemasan pasta gigi, untuk senantiasa menyikat gigi tiga kali sehari, hingga nafasnya lebih busuk dari naga yang paling busuk,  atau orang yang gemar membicarakan orang lain di depan kita, dan membicarakan kita di depan orang lain, atau orang yang lebih menarik dari kita dan tahu bahwa dia lebih menarik dan sengaja berdiri berdampingan dengan kita agar orang lain bisa melihat betapa menariknya dia dibanding kita.  Itu bukan  kejahatan tingkat I hingga kita menginginkan dia meninggal. Tidak! Kita tak akan pernah menginginkann orang-orang diatas meninggal.
Dalam kasusku, aku sangat tidak menyukai seorang wanita setengah idiot yang selalu mencuri buah jambu-ku, dan dia secara tiba-tiba meninggal. Ini berbeda ketika mendengar berita kematian istri mantan presiden yang aku sukai atau ayah aktor terkenal yang tidak aku sukai. Aku tidak mengenal mereka, baik langsung maupun tak langsung, walaupun aku merasa mengenal mereka. Namun wanita ini, yang mengesalkanku setengah mati, adalah pribadi yang kukenal, meskipun melalui kekurangannya. Dan kepergiannya telah begitu mempengaruhiku, menunjukkan kepadaku orang seperti apa sebenarnya aku ini. Betapa dangkalnya aku, betapa piciknya aku. Aku kesal padanya, hanya karena dia ingin menyantap buah jambu, bukan karena dia merusak barang-barangku yang lain, yang jauh lebih berharga. Ya Tuhan, hanya beberapa butir buah jambu yang masih muda dan kecut.
Namun, sedetikpun aku tak pernah berpikir ingin melihatnya meninggal.
Beberapa kejahatan yang lebih parah di lakukan orang lain. Pengeboman hotel berbintang, penculikan anak-anak yang berakhir dengan pembunuhan anak-anak malang tersebut, mutilasi yang sempat tren, korupsi, fornografi yang dilakukan oleh tokoh publik yang sangat terkenal, hingga penggelapan pajak. Perbuatan orang-orang tersebut cukup membuat kita membencinya, dan bagi sebagian orang yang lain, perbuatan mereka mungkin cukup menjadi alasan bagi pelakunya untuk dihukum mati. Namun, dengan sedikit kesempatan memberikan pembelaan diri, mereka bisa dengan mudah membolak balik perasaan kita sebagai penyimak. Yang melakukan pengeboman mengatakan, “..melakukannya demi tuntutan jihad.” Si penculik khusus anak-anak berdalih, “..mendapat semacam bisikan gaib.” Yang korupsi dengan jentel mengundurkan diri dan dengan gagah perkasa menyerahkan diri ke polisi, namun ogah mengakui bahwa mereka telah memakan uang negara. Bagi mereka uang itu adalah.. “.. kompensasi akan kerja keras melakukan perbaikan di negeri ini.”
Sementara bagi si Public Figure yang video syurr-nya dengan beberapa wanita beredar luas di internet, terang-terangan menyangkal bahwa pemeran adegan tak senonoh itu bukanlah dia, tapi adalah keajaiban genetis yang benar-benar spektakuler karena sangat menyerupai dirinya. Namun, ketika para ahli mengatakan bahwa tak ada keraguan lagi, pria di video tersebut adalah tokoh tersebut, lagunya lain lagi. Dia berujar, “ ..Saya ini korban, kenapa malah saya yang disorot dan disudutkan?” koarnya. Dan bagi si penggelap pajak, dia merasa tak bersalah karena.. “ …ini bukan yang pertama kali, dan toh bukan saya saja yang menikmati uang tersebut..”
Mereka melakukan kejahatan, pengrusakan moral, pembunuhan massal, keji dan diluar jangkauan daya imajinasi kita, namun ada beberapa orang yang akhirnya bersimpati termakan nyanyian merdu mereka. Yang menjadi tren saat ini, tentu saja, menggalang dukungan melalui dunia maya, sering kita kenal dengan “ SATU JUTA F***B***ER BEBASKAN SI A!” dan sejenisnya.
Dan, tetanggaku penggila jambu kecut itu tak pernah membunuh, korupsi, melakukan fornografi, namun kenapa dulu aku begitu kesal padanya? Tentu saja, usaha saya untuk menyalahkan diri sendiri akan kekeliruan sikap saya kepadanya di masa lalu tidak mungkin dapat menghidupkannya lagi. Dan saya pasrah, hanya berdoa semoga arwahnya di terima di sisi-Nya.
Kembali ke masalah kematian. Saya mengatakan bahwa saya mendapat pencerahan melalui kematian tetangga saya yang malang, dan itu benar. Selama ini, setiap mendengar ada yang meninggal, saya selalu didera perasaan risau, dan perasaan itu sangat asing dan merupakan sesuatu yang sama sekali baru dalam kamus emosi saya. Dan belakangan saya mengerti—atau mencoba meraba-raba—bahwa sesungguhnya saya takut jika tiba-tiba kematian datang menghampiri saya. Bahwa akhirnya Waktu saya tiba, sementara saya tahu, saya tak punya cukup bekal, tak punya apa-apa untuk saya bawa Pulang. Saya bukan hambaNya yang taat, meskipun saya tahu Dia ada dan Menunggu saya meraihNya. Saya hanya berharap, ketika saya Dipanggil, saya telah mengecap indahnya Iman. Dan saya tahu saya tak boleh menundanya lagi.
Tak pernah ada akhir ketika kita memutuskan membicarakan ‘akhir’ itu sendiri, karena hakikinya ia tetap menjadi misteri bagi kita yang menunggunya. Ketika kematian datang, pastikan menyambutnya dengan tersenyum, tersenyum dan penuh kerinduan kepadaNya. Saya tak menujukan nasehat itu kepada orang lain, karena saya tahu, saya tak pantas menasehati orang lain. Nasehat itu saya tujukan buat saya sendiri jika suatu saat saya lupa, dan saya memang gampang lupa…

The end 
Selengkapnya...